Ahli Membuat Masalah
ALKISAH, ada orang yang usahanya seret, malah pinjam uang ke pinjol yang bunganya besar. Sering pinjam juga uang ke teman-temannya yang akhirnya tidak dibayar.
Jika dapat uang, uangnya malah dipakai bersenang-senang. Bukan untuk menata diri. Lama kelamaan, utangnya makin banyak, sehingga ia sering dikejar-kejar debt collector.
Dalam kondisi semacam itu, istrinya membantu keuangan keluarga. Bukannya mencukupi nafkah keluarga, ia malah bermain api dengan berselingkuh. Dan tak hanya sekali. Lalu ketahuan istrinya yang akhirnya meminta cerai. Anak-anaknya kecewa dengan tingkah bapaknya.
Prosesnya lama dan perlahan. Sekarang ia sakit-sakitan, tinggal sendiri, merana, dijauhi keluarga dan teman-temannya karena trauma dengan perilakunya yang sering bikin masalah.
Orang yang semacam ini tidak hanya satu dua, tapi berlimpah di sekitar kita. Tentu dengan masalah yang sedikit berbeda. Namun layaklah orang semacam ini disebut sebagai orang yang AHLI MEMBUAT MASALAH.
Orang semacam ini tidak siap dan tidak sabar dengan ujian hidup. Sudah susah dan punya masalah, kenapa malah ditambah dengan melakukan sesuatu yang dia sadar itu menambah masalahnya di kemudian hari?
Saudaraku... hidup memang tidak selalu mudah. Harga naik. Cicilan jalan. Penghasilan kadang seret. Tapi ketika itu terjadi sebenarnya kita sedang diuji : Apakah kita mendekat kepada Allah dan sabar dengan apa yang terjadi? Atau mencari jalan pintas yang berujung terjerat dalam lingkaran setan?
Allah SWT berfirman: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dan mendapatkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)
Ayat ini bukan sekadar hiasan di dinding. Ia janji. Tapi janji itu mensyaratkan takwa, bukan nekat. Mensyaratkan kesabaran, bukan pelarian.
Masalah hidup itu seperti api kecil. Kalau disiram air kesabaran, ia padam. Kalau disiram bensin hawa nafsu, ia membesar dan membakar segalanya. Banyak orang tidak hancur karena ujian. Mereka hancur karena responnya terhadap ujian.
Saudaraku… Allah SWT tidak pernah salah memberi ujian. Yang sering salah adalah cara kita menyikapinya. Kalau hari ini hidup sedang sempit, jangan tambah dengan dosa.
Kalau hari ini rezeki sedang tertahan, jangan buka pintu yang Allah haramkan. Kalau hari ini hati sedang gelisah, datanglah ke sajadah, bukan ke maksiat.
Karena sekali kita terbiasa menambah masalah, lama-lama masalah itulah yang akan menenggelamkan kita. Jangan sampai di akhir hidup kita menyesal, bukan karena kurang rezeki, tapi karena terlalu sering membuat keputusan bodoh yang kita tahu itu salah.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang ketika diuji menjadi lebih dekat kepada-Nya, ketika susah menjadi lebih sabar, dan ketika lapang menjadi lebih bersyukur.
Jangan jadi ahli membuat masalah, tapi jadilah ahli memperbaiki diri.
By. Satria hadi lubis
- Ust. Satria Hadi Lubis
- shl
- Bagikan :

Komentar