I'tikaf : Ibadah Yang Terlupakan
RAMADHAN selalu datang membawa suasana yang istimewa. Masjid menjadi lebih hidup, shalat tarawih dipenuhi jamaah, suara tilawah Al-Qur’an terdengar di berbagai penjuru. Banyak orang berlomba-lomba memperbanyak ibadah. Namun di tengah semarak itu, ada satu ibadah yang justru sering terlupakan: i’tikaf.
Padahal i’tikaf adalah ibadah yang sangat dicintai oleh Rasulullah saw. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa setiap Ramadhan beliau selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah binti Abu Bakar ra : “Rasulullah saw beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga beliau wafat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
I’tikaf pada hakikatnya adalah menetap di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah. Seseorang menahan dirinya dari kesibukan dunia untuk beberapa waktu, agar hatinya benar-benar fokus kepada Rabb-nya. Ia memperbanyak shalat, tilawah, dzikir, doa, dan tafakkur.
Mengapa ibadah ini terasa asing bagi banyak orang?
Salah satu sebabnya adalah karena i’tikaf menuntut kita untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Di zaman yang serba sibuk ini, manusia terbiasa dengan aktivitas tanpa henti : pekerjaan, bisnis, media sosial, urusan keluarga, dan berbagai tuntutan lainnya. Ketika diminta untuk tinggal di masjid beberapa jam saja, hati sering merasa gelisah.
Padahal justru di situlah rahasianya. I’tikaf adalah ruang sunyi bagi hati yang lelah. Ia seperti oase di tengah padang kesibukan. Ketika seseorang duduk di masjid, membaca Al-Qur’an, menundukkan kepala dalam doa, dan merasakan kehadiran Allah, hatinya perlahan menjadi tenang.
I’tikaf juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan Lailatul Qadr, malam yang lebih mulia daripada seribu bulan. Rasulullah saw beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan karena beliau mencari dan menanti malam agung itu.
Allah berfirman: “Lailatul Qadr lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr : 3)
Bayangkan, satu malam yang nilainya lebih baik daripada delapan puluh tiga tahun ibadah. Betapa ruginya jika seseorang melewati malam-malam itu dalam kesibukan yang biasa saja.
Sesungguhnya i’tikaf bukan hanya untuk para ulama atau orang-orang yang sholih. Ia adalah ibadah yang terbuka bagi siapa saja. Bahkan jika seseorang tidak mampu beri’tikaf sepuluh hari penuh, ia masih bisa melakukannya beberapa malam saja, bahkan beberapa jam saja di malam-malam terakhir Ramadhan.
Boleh jadi selama ini kita sibuk mencari ketenangan ke banyak tempat, padahal ketenangan itu menunggu di dalam masjid.
Ramadhan hanya datang sekali dalam setahun. Sepuluh malam terakhir lebih cepat berlalu daripada yang kita bayangkan. Jangan sampai kita termasuk orang yang sibuk dengan banyak ibadah, tetapi melupakan ibadah yang sangat dicintai Rasulullah saw ini.
Mungkin sudah waktunya kita bertanya kepada diri sendiri :
Jika Nabi begitu menjaga i’tikaf setiap Ramadhan, mengapa kita begitu mudah meninggalkannya?
Semoga Allah menghidupkan hati kita dengan ibadah i'tikaf, ibadah yang sering terlupakan ini. Dan mempertemukan kita dengan keberkahan Lailatul Qadr. Aamiiin yaa robbal 'aalamiin...
By. Satria hadi lubis
- Ust. Satria Hadi Lubis
- shl
- Bagikan :

Komentar