Menghidupkan Ramadhan Dengan Al-Qur'an
RAMADHAN bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah bulan cahaya. Pada bulan ini, langit terasa lebih dekat, doa-doa seperti lebih mudah naik ke hadirat Allah, dan hati yang keras pun lebih mudah luluh.
Ramadhan menjadi istimewa karena pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan. Allah berfirman dalam Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah ayat 185, bahwa Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Maka Ramadhan dan Al-Qur’an tak bisa dipisahkan. Jika kita ingin Ramadhan benar-benar hidup, maka hidupkanlah ia dengan Al-Qur’an.
Banyak orang berpuasa, tetapi tidak semua benar-benar merasakan makna Ramadhan. Siang hari menahan lapar, malam hari sibuk dengan gawai. Tarawih didatangi, tetapi mushaf jarang disentuh. Padahal ruh Ramadhan ada pada kedekatan kita dengan kalam Allah. Tanpa Al-Qur’an, Ramadhan hanya menjadi rutinitas tahunan. Ada suasana, ada tradisi, tetapi sedikit perubahan dalam diri.
Kita bisa belajar dari Rasulullah saw, beliau disebutkan bahwa setiap bulan Ramadhan, beliau didatangi Malaikat Jibril untuk saling membaca dan menyimak Al-Qur’an. Bahkan pada tahun terakhir kehidupannya, beliau mengulanginya dua kali. Manusia terbaik saja menjadikan Ramadhan sebagai bulan bersama Al-Qur’an secara lebih sungguh-sungguh. Lalu bagaimana dengan kita?
Para sahabat pun demikian. Mereka memperbanyak tilawah di bulan ini. Ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tiga hari, bahkan setiap hari pada sepuluh malam terakhir. Mereka memahami bahwa keberkahan Ramadhan terletak pada kedekatan dengan wahyu.
Namun menghidupkan Ramadhan dengan Al-Qur’an bukan hanya soal banyaknya bacaan. Bukan sekadar mengejar target khatam. Yang lebih penting adalah menghadirkan hati saat membaca. Mencoba memahami maknanya, walau sedikit demi sedikit. Merenungi ayat-ayatnya, lalu mengaitkannya dengan kehidupan. Mengamalkan pesannya, meski hanya satu ayat setiap hari. Bisa jadi satu ayat yang direnungi dengan sungguh-sungguh lebih mengubah hidup daripada satu juz yang dibaca tanpa penghayatan.
Bayangkan sebuah rumah di bulan Ramadhan. Seusai Subuh terdengar lantunan tilawah. Anak-anak melihat orang tuanya membuka mushaf. Menjelang berbuka ada obrolan ringan tentang satu ayat yang dibaca hari itu. Malam hari ada mata yang berkaca-kaca ketika membaca ayat tentang surga dan neraka. Rumah seperti itu bukan hanya dipenuhi suara, tetapi dipenuhi cahaya.
Ramadhan selalu datang dan selalu pergi. Yang menjadi pertanyaan, apakah ia meninggalkan bekas? Jika setelah Ramadhan kita semakin dekat dengan Al-Qur’an, berarti Ramadhan kita berhasil. Tetapi jika mushaf kembali berdebu dan tilawah berhenti bersama berakhirnya bulan suci, mungkin kita hanya melewati Ramadhan, bukan menghidupkannya.
Semoga Ramadhan kali ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi menjadi titik balik. Titik ketika hati kita kembali hangat bersama wahyu. Titik ketika Al-Qur’an tidak hanya dibaca oleh lisan, tetapi dicintai oleh jiwa.
Sebab Ramadhan akan benar-benar hidup ketika Al-Qur’an hidup di dalam dada kita.
By. Satria hadi lubis
- Ust. Satria Hadi Lubis
- shl
- Bagikan :
